1.      Proses kedatangan bangsa Inggris di Indonesia
Kedatangan pemerintah Inggris pertama kali dilakukan oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish pada tahun 1579. Tujuan dari mereka adalah untuk mencari rempah-rempah. Pada saat itu Inggris dapat membawa rempah-rempah dari Ternate ke Inggris melalui Samudera Hindia. Pada tahun 1586 Inggris kembali mendatangi Indonesia yang dipimpin Thomas Cavendish melewati jalur yang sama.
Dengan penalaman yang dimiliki para pelaut Inggris pada tahun 1579 dan 1586 itu, membuat Ratu Elizabeth berniat untuk mengembangkan sayap perdagangan sayap perdagangan ke daerah Asia. Ratu Elizabeth ingin menyaingi perdagangan Spanyol, menggalakan ekspor wol dan mencari rempah-rempah.
Ratu Elizabeth memberikan hak istimewa kepada EIC (East Indian Company) untuk mengurus segala hibingan perdagangan dengan Asia. EIC mengirimkan armada untuk menuju Indonesia. EIC dapat melewati jalur Portugis tetapi gagal untuk masuk Indonesia karena mendapat serangan dari Portugis dan bajak laut Melayu di Selat Malaka.
     “Awal abad ke 17, Inggris telah memiliki jajahan di India dan terus berusaha mengembangkan pengaruhnya di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Kolonialisme Inggris di Hindia Belanda dimulai tahun 1604. Menurut catatan sejarah, sejak pertama kali tiba di Indonesia tahun 1604, EIC mendirikan kantor-kantor dagangannya. Di antaranya di Ambon, Aceh, Jayakarta, Banjar, Japara, dan Makassar.”
Pada tahun 1811, Inggris kembali melakukan penyerangan terhadap Belanda untuk dapat menguasai Indonesia. Ketika melakukan penyerangan itu Gubernur Jenderal Daendels tengah dipanggil untuk kembali ke Belanda dan digantikan oleh Gubernur Jenderal Jan Jansen. Penyerangan yang dilakukan Inggris dapat melumpuhkan kekuasaan Belanda, sehingga Belanda menyerahkan kekuasaanya di Indonesia kepada Inggris. Penyerahan kekuasaan ditandai dengan dibuatnya sebuah perjanjian, yang disebut dengan “Perjanjian Tuntang” pada tanggal 18 September 1811, yang berisikan :
1.      Seluruh Jawa dan sekitarnya diserahkan kepada Inggris
2.      Semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris
3.      Semua pegawai Belanda yang mau bekerja dengan Inggris dapat memegang jabatannya terus
4.      Semua hutang pemerintah Belanda yang dulu, bukan menjadi tanggung jawab Inggris




Satu minggu sebelum perjanjian dilakukan, Raja Muda (Viceroy) Lord Minto yang berkedudukan di India, mengangkat Thomas Stamford Rafles sebagai wakil Gubernur (Liuetenant Governor). Sehingga Rafles memiliki kekuasaan penuh di Indonesia.
Kedatangan Rafles di Indonesia mendapat sebuah penyambutan yang hangat dari Raja-Raja Melayu saat itu. Rafles datang pertama kali ke Indonesia dengan keadaan dimana rakyat menderita dengan semua perjanjian yang telah dibuat oleh Belanda, sehingga Rafles membuat kebijakan baru yang dapat menyelamatkan rakyat dari penderitaan.

2.      Kebijakan kolonialisme bangsa Inggris dibidang pemerintahan dan ekonomi
Kebijakan baru yang dibuat oleh Rafles meliputi banyak bidang, dimulai dari bidang pemerintahan, bidang pendidikan, bidang perekonomian dan keuangan dan bidang hukum.
a.       Kebijakan bidang pemerintahan
1.      Pulau Jawa dibagi menjadi 16 karesidenan
2.      Mengubah system pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa pribumi menjadi system pemerinahan colonial yang bercorak barat
3.      Bupati-bupati atau penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya sebagai kepala pribumi secara turun-temurun. Mereka dijadikan pegawai pemerintah colonial yang langsung dibawah kekuasaan pemerintah pusat.
b.      Kebijakan bidang perekonomian dan keuangan
1.      Petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman ekspor, sedangkan pemerintah hanya berkewajiban membuat pasar untuk merangsang petani menanam tanaman ekspor yang paling menguntungkan.
2.      Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan system penyerahan wajib (Verplichte Leverantie) karena dianggap terlalu berat dan dapat mengurangi daya beli rakyat.
3.      Menetapkan system sewa tanah (Landrent)
4.      Pemungutan pajak awalnya secara perorangan. Namun, karena petugas tidak cukup akhirnya dipungut per desa.
c.       Bidang Hukum
System peradilan yang diterapkan Rafls lebih baik daripada yang dilaksanakan Daendels. Apabila Daendels berorientasi pada warna kulit (ras), Rafles lebih berorientasi pada besar-kecilnya kesalahan. Menurut Rafles, pengadilan merupakan benteng untuk memperoleh keadilan. Oleh karena itu, harus ada benteng yang sama bagi setiap warga Negara.
d.      Bidang sosial
1.      Penghapusan kerja Rodi (kerja paksa)
2.      Penghapusan perbudakan
3.      Peniadaan pynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan melawan harimau.
3.      Ide atau temuan masa kolonialisme bangsa Inggris di Indonesia
a.       Ditulisnya buku berjudul History of Java. Dalam menulis buku tersebut, Rafles dibantu oleh juru bahasanya Raden Ario Notodinigrat dan Bupati Sumenep, Notokusumo II.
b.      Memberikan bantuan kepada John Crawfurd (Residen Yogyakarta) untuk mengadakan penelitian yang menghasilkan buku berjudul History of the East Indian Archipelago, diterbitkan dalam 3 jilid di Edinburg Skotlandia pada tahun 1820.
c.       Rafles juga aktif dalam mendukung Bataviaach Genootschap, sebuah perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
d.      Ditemukannya bungai bangkai yang akhirnya diberi nama Raflesia Arnoldi
e.       Dirintisnya Kebun Raya Bogor.
f.       Menginisiasi penggalian Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Panataran.

Kekuasaan Inggris di Indonesia diakhiri dengan dibuatnya Convention of London pada tahun 1814 yang berisikan :
1.      Indonesia dikembalikan kepada Belanda
2.      Jajahan Belanda seperti Sailan, Kaap Koloni, Guyana, tetap ditangan Inggris
Cochin (dipantai Malabar) diambil alih oleh Inggris, sedangkan Bangka diserahkan kepada Belanda sebagai gantinya

Sumber:
-          Tim Penyusun. 2014. Buku Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA/MAK Kelas X: Buku siswa. Jakarta: Kementran Pendidikan dan Kebudayaan – Edisi Revisi. (Halaman 42-45 ).
-    Poesponegoro, Marwati Djoned. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka. (halaman 89-95 )

Sejarah 

Sejarah Singkat Soekarno klik disini
SEJARAH

Buku Guru dan Sswa Mata Pelajaran  Sejarah Revisi 2017  Kelas X Download

Buku Guru dan Sswa Mata Pelajaran  Sejarah Revisi 2017  Kelas XI Download

Buku Guru dan Sswa Mata Pelajaran  Sejarah Revisi 2017  Kelas XII Download


Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia


A.    Asal Usul Nenek Moyang
Di Indonesia, temuan manusia purba terdiri atas jenis Meganthroups, Pithecanthropus dan Homo. Penemuan berbagai jenis manusia purba tidak terlepas dari penelitian yang dilakukan para ahli paleontologi Belanda, diantaranya Eugene Dubois (1858-1940) dan G.HR Von Koenigswald (1902-1982).
Secara khusus kedatangan Eugene Dubois ke Indonesia berawal dari keyakinannya bahwa manusia purba menyukai hidup didaerah tropis seperti Indonesia. Mula-mula, ia ke Sumatra lalu ke jawa. Daerah tropis diyakini sebagai daerah yang keadaan alamnya cukup stabil baik pada zaman glasial maupun pasca zaman pasca glasial.
Secara umum, asal usul manusia-manusia purba sampai sekarang masih menjadi kontroversi. Jawaban atas asal usul manusia purba itu tidak pernah jelas dan tuntas. Para peneliti, seperti Moh. Yamin, J. Crawford, K. Himly, dan Sutan Takdir Alisjahbana berpendapat bahwa manusia purba yang menghuni wilayah Nusantara berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Pandangan tersebut menentang pandangan yang mengatakan bahwa manusia-manusia purba berasal dari luar wilayah Indonesia. Pandangan mereka yang lazim disebut Teori Nusantara didasarkan pada alasan-alasan berikut.
·         Bangsa Melayu dan bangsa jawa mempunyai tingkat peradaban yang tinggi. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah perkembangan budaya yang lama. Hal ini menunjukkan orang melayu berasal dari dan berkembang di Nusantara.
·         Terhadap pandangan yang mengatakan bahwa bahasa Melayu serumpun dengan bahasa Champa (Kamboja) sehingga manusia-manusia praaksara tersebut berasal dari luar Nusantara, K. Himly berpendapat bahwa kesamaan antara kedua bahasa tersebut bersifat kebetulan saja.
·         Menurut Moh. Yamin, fakta banyaknya fosil dan artefak tertua yang ditemukan di Indonesia, seperti fosil Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia (Melayu) berasal dari Indonesia sendiri (Jawa)
·         Bahasa yang berkembang di Nusantara, yaitu rumpun bahasa Austronesia, sangat jauh bedanya dengan bahasa yang berkembang  di wilayah lain di Asia.
Ada juga pandangan lain, yaitu Teori Yunan. Menurut teori ini, manusia purba yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan (Tiongkok). Mereka masuk ke Indonesia setelah tinggal cukup lama di daerah-daerah lain Asia Tenggara, terutama Vietnam (Dongson). Namun, belakangan ini, para ahli berpendapat bahwa teori ini bukan mengacu pada asal usul manusia purba yang disebutkan sebelumnya, melainkan pada bangsa Melayu Austronesia dari ras Mongoloid yang dating ke Nusantara dari Yunan (Tiongkok).
Menurut teori Yunan, kedatangan orang-orang dari Yunan ke Indonesia terjadi dalam 2 gelombang, yakni gelombang pertama pada sekitar tahun 1500 SM dan gelombang kedua pada sekitar tahun 300 SM. Orang-orang Yunan inilah yang sering disebut sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Ciri-ciri fisiknya sudah menyerupai manusia modern atau Homo sapiens.
Teori yang popular namun juga dianggap kurang meyakinkan adalah Teori Afrika. Menurut teori ini, manusia purba yang pertama kali mendiami Nusantara dating dari Afrika. Manusia purba muncul dan berkembang pertama kali di Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu. Mereka kemudian menyebar ke berbagai tempat dnegan berbagai variasi dan karakteristik yang khas, sesuai kondisi lingkungan, kemampuan beradaptasi dan sebagainya.
Proses persebaran manusia tersebut berlangsung sangat lambat dan lama. Sejak tahun 200.000 SM hingga 60.000 SM, manusia menyebar ke seluruh wilayah di Afrika. Tahun 60.000 SM, manusia mulai menyebar ke timur tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia.
Factor apa yang memungkinkan manusia purba sampai di Indonesia? Pada saat itu, suhu bumi menurun hingga menyebabkan terbentuknya es dibagian utara bumi, yaitundi Eropa dan Amerika Utara (zaman es atau glasial). Hal tersebut menyebabkan tinggi permukaan air laut menurun dan membentuk banyak daratan baru sehingga mempermudah manusia berpindah-pindah, meski harus menempuh jarak yang sangat jauh.
Teori Afrika kemudian diragukan kebenarannya, terutama sejak ditemukannya tulang belulang manusia di serangkaian  gua di Spanyol pada tahun 1941, yang di sebut Homo Neanderthalensis. Berdasarkan hasil temuan tersebut, makhluk ini telah menyebar di wilayah Eurasia sejak sekitar 200.000 tahun yang lalu lenyap pada sekitar 15.000 tahun yang lalu. Ciri-cirinya sudah sangat mendekati ciri-ciri manusia modern atau Homo Sapiens.
Selain itu, teori afrika juga diragukan kesahihannya karena berdasarkan hasil penelitian, manusia purba pertama di Nusantara, yaitu jenis Meganthropus, sudah mendiami Nusantara sejak 1,9 juta tahun yang lalu, manusia Afrika baru muncul sekitar 200.000 tahun yang lalu.
Di Nusantara, Meganthropus diyakini berevolusi menjadi Pithecanthropus, kemudian berevolusi menjadi Homo (Homo Wajakaensis, Homo Soloensis dan Homo Floresiensis). Dalam tiap-tiap tahap evolusinya, otak manusia purba terus mengalami kemajuan. Hal tersebut terbukti dari kemampuan mereka membuat alat-alat sederhana dari batu untuk bertahan.

B.     Gelombang I yang disebut juga Melayu Tua (Proto Melayu)
Bangsa Proto Melayu memasuki wilayah Indonesia sekitar tahun 1500-500 SM. Proto melayu diyakini sebagai nenek moyang orang Melayu Polinesia yang tersebar dari Madagaskar sampai pulau-pulau paling timur di Pasifik. Mereka diperkirakan datang dari Cina bagian Selatan. Ras melayu ini mempunyai ciri-ciri rambut lurus, kulit kuning kecoklat-coklatan dan bermata sipit. Dari cina bagian selatan (Yunan) mereka bermigrasi ke Indocina dan Siam, kemudian ke kepulauan Indonesia. Mereka itu mula-mula menempati pantai-pantai Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat. Ras Proto Melayu membawa peradaban batu di kepulauan Indonesia.
Alasan- alasan yang menyebabkan bangsa Proto Melayu tua meninggalkan daerah asalnya sebagai berikut :
a.       Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari asia tengah
b.      Adanya peperangan antar suku
c.       Adanya bencana alam berupa banjir, akibat sering meluapnya sungai she kiang dan sungai-sungai lainnya di daerah tersebut.
Ketika datang para imigran baru, yaitu Deutero Melayu (ras melayu muda) mereka berpindah masuk ke pedalaman dan mencari tempat baru ke hutan-hutan sebagai tempat huniannya. Ras proto melayu itu pun kemudian mendesak keberadaan penduduk asli. Kehidupan didalam hutan-hutan menjadikan mereka terisolasi dari dunia luar, sehingga memudarkan peradaban mereka. Penduduk asli dan ras proto melayu itupun kemudian melebur. Mereka itu kemudian menjadi suku bangsa Batak, Dayak, Toraja, Alas dan Gayo.
Di Indonesia ras ini menyebar melalui 2 jalur :
1.      Jalur pertama melalui jalur barat dan membawa kebudayaan berupa kapak persegi. Dengan menempuh jalur darat dari Yunan mereka menuju ke semenanjung Melayu melalui Thailand selanjutnya menuju ke Sumatera, Jawa, Bali, ada pula yang menuju Kalimantan dan berakhir di Nusa Tenggara.
2.      Melalui jalur timur dan membawa kebudayaan berupa kapak lonjong. Dengan menempuh jalur laut dari Yunan (Teluk Tonkin) menyusuri pantai Asia Timur menuju Taiwan, Filipina, kemudian ke daerah Sulawesi, Maluku, ke Irian selanjutnya sampai ke Australia. Peninggalan kapak lonjong banyakditemukan di papua. Keturunan proto melayu yang melalui jalur ini adalah Suku Toraja (Sulawesi Selatan), suku Papua (Irian) suku Ambon, Ternate, Tidore (Maluku).
Kehidupan mereka yang terisolasi itu menyebabkan ras proto melayu sedikit mendapat pengaruh dari kebudayaan Hindu maupun Islam di kemudian hari. Para ras Proto Melayu itu kelak mendapat pengaruh Kristen sejak mereka mengenal para penginjil yang masuk ke wilayah mereka untuk memperkenalkan agama suku bangsa Dayak hingga ke Filipina Selatan, Serawak dan Malaka menunjukkan rute perpindahan mereka dari kepulauan Indonesia. Sementara suku Bangsa Batak yang mengambil rute ke barat menyusuri pantai-pantai Burma dan Malaka Barat. Beberapa kesamaan bahasa yang digunakan oleh suku bangsa Karen di Burma banyak mengandung kemiripan dengan bahasa Batak.


 C.     Gelombang II yang disebut juga Melayu Muda (Deuto Melayu)
Deutro Melayu adalah ras yang berasal dari daratan indocina bagian selatan. Ras ini datang ke Indonesia membawa budaya baru berupa perkakas dan senjata besi (kebudayaan Dongson). Perpindahannya bisa dilihat dari rute persebaran alat-alat yang ditinggalkan di beberapa kepulauan yang ada di Indonesia. Alat-alat yang ditinggalkan berupa kapak persegi panjang. Peradaban itu bisa dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Malaka, Filipina, Jawa, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Deutro Melayu ini mempunyai kemampuan dalam membuat irigasi di tanah pertanian dan kemajuan dalam bidang pelayaran, hal ini diperkuat dengan penguasaan terhadap ilmu perbintangan yang sangat mendukungnya. Bangsa Deutro Melayu memasuki wilayah Indonesia sekitar 500 SM secara bergelombang. Mereka masuk melalui jalur barat, yaitu melalui Semenanjung Melayu terus ke Sumatera dan tersebar ke wilayah Indonesia yang lain.
 Kebudayaan Bangsa Melayu Muda (Dikenal dengan kebudayaan Dongson) meliputi:
1. Nekara 
    Nekara adalah genderang perunggu dengan membran satu. Berdasarkan hiasan yang terdapat dalam beberapa nekara, benda ini diduga digunakan untuk memanggil roh para leluhur untuk turun ke dunia dan memberi berkah serta memanggil hujan. Nekara dapat juga disebut Genderang Nobat atau Genderang Ketel karena bentuknya semacam berumbung. Terbuat dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya, dan sisi atasnya tertutup. Bagi masyarakat prasejarah, nekara dianggap sesuatu yang suci. Di daerah asalnya, Dongson, pemilikan nekara merupakan simbol status, sehingga apabila pemiliknya meninggal, dibuatlah nekara tiruan yang kecil yang dipakai sebagai bekal kubur.
Di Indonesia nekara hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, antara lain ditabuh untuk memanggil roh nenek moyang, dipakai sebagai genderang perang, dan dipakai sebagai alat memanggil hujan. Daerah penemuan nekara di Indonesia antara lain, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Roti, dan Pulau Kei serta Pulau Selayar, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Sangean. Nekara-nekara yang ditemukan di Indonesia, biasanya beraneka ragam sehingga melalui hiasan-hiasan tersebut dapat diketahui gambaran kehidupan dan kebudayaan yang ada pada masyarakat prasejarah. Nekara yang ditemukan di Indonesia ukurannya besar-besar. Contoh nekara yang ditemukan di Desa Intaran daerah Pejeng Bali, memiliki ketinggian 1,86 meter dengan garis tengahnya 1,60 meter. Nekara tersebut dianggap suci sehingga ditempatkan di Pure Penataran Sasih. Dalam bahasa Bali sasih artinya bulan, maka nekara tersebut dinamakan nekara Bulan Pejeng.

2. Kapak Corong
      Disebut kapak corong karena kapak dari perunggu ini bentuknya seperti corong. Kapak ini disebut juga kapak sepatu karena berbentuk seperti sepatu. Fungsinya tetap sama seperti kapak sebelumnya, yaitu untuk memotong kayu. Kapak corong disebut juga kapak sepatu karena seolah-olah kapak disamakan dengan sepatu dan tangkai kayunya disamakan dengan kaki. Bentuk bagian tajamnya kapak corong tidak jauh berbeda dengan kapak batu, hanya bagian tangkainya yang berbentuk corong. Corong tersebut dipakai untuk tempat tangkai kayu. Bentuk kapak corong sangat beragam jenisnya. Salah satunya ada yang panjang satu sisinya yang disebut dengan candrosa, bentuknya sangat indah dan dilengkapi dengan hiasan. Kapak ini banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan di Papua.

3. Arca Perunggu
     Arca perunggu yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk bervariasi, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang.Pada umumnya, arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya. Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Palembang Sumsel, Limbangan Bogor, dan Bangkinang Riau. Arca-arca berupa manusia dan binatang ditemukan di Bangkinang (Riau), Palembang, Bogor, dan Lumajang (Jawa Timur).

4. Bejana Perunggu
               Bejana perunggu berbentuk seperti kepis (wadah ikan pada pemancing) dengan pola hias pilin berganda pada sisi luar. Bejana perunggu ditemukan di tepi Danau Kerinci Sumatra dan Madura, bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kedua bejana yang ditemukan mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J. Barang ini telah ditemukan di Kerinci (Jambi) dan Asemjaran, Sampang, Madura (Jawa Timur).

5. Perhiasan
    Perhiasan dari perunggu yang ditemukan sangat beragam bentuknya, yaitu seperti kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung dan cincin. Di antara bentuk perhiasan tersebut terdapat cincin yang ukurannya kecil sekali, bahkan lebih kecil dari lingkaran jari anak-anak. Untuk itu, para ahli menduga fungsinya sebagai alat tukar. Perhiasan perunggu ditemukan di Malang, Bali, dan Bogor.Perhiasan dari perunggu berupa gelang, gelang kaki, anting-anting, kalung, cincin, dan mainan kalung.

6. Manik-Manik
    Manik-manik yang berasal dari zaman perunggu ditemukan dalam jumlah yang besar sebagai bekal kubur sehingga memberikan corak istimewa pada zaman perunggu.

Keturunan Bangsa Deutro Melayu:
Mereka memperkenalkan perkakas dan senjata yang terbuat dari besi atau logam. Mereka telah melakukan kegiatan bercocok tanam dan menggunakan perahu bercadik.Padi yang banyak ditanam di Indonesia saat ini juga dibawa oleh Deutero-Melayu dari wilayah Assam Utara atau Birma Utara.  Dari sana padi dibawa melalui  jalur lembah Sungai Yang-tze di wilayah Cina Selatan, terus ke selatan sampai di Jawa. Bangsa Deutero-Melayu mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang lebih maju. Karena itu, mereka berkembang menjadi suku-suku yang ada sampai saat ini seperti Melayu, Minang, Jawa, Bugis, dan lain-lain.  Dalam perkembangan selanjutnya, Proto-Melayu dan Deutero Melayu berbaur, sehingga sulit dibedakan. Diperkirakan Gayo dan  Alas  di Sumatra serta Toraja di Sulawesi mewakili Proto-Melayu. Selain ketiga suku tersebut (kecuali Papua)  dimasukkan ke dalam kategori Deutero-Melayu. Walaupun demikian, nenek moyang bangsa Indonesia  dapat dikatakan serumpun yaitu keturunan dari penduduk asli dan dua gelombang migrasi dari utara. Serumpunnya kategori ras-ras yang mendiami kepulauan Nusantara juga dapat dibuktikan melalui kajian linguistik. Hampir 170 bahasa yang dipakai di penjuru kepulauan Nusantara termasuk ke dalam kelompok Austronesia dengan sub linguistik Melayu-Polinesia. Sub Melayu-Polinesia ini kemudian terpecah lagi menjadi dua : kelompok pertama terdiri atas bahasa yang berkembang di pedalaman Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi; kelompok kedua terdiri atas bahasa yang berkembang di Batak, Melayu standar, Jawa dan Bali. Bahasa kelompok kedua ini datang lama setelah yang pertama. Selain kedua kelompok tersebut, perlu dilakukan kajian atas susunan bahasa lain yaitu Papua dan Halmahera Utara

Perbedaan Bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu
Bangsa Proto Melayu:
·         Masuk Indonesia pada tahun 1500 sm.
·         Masuk Indonesia melalui jalur barat dan timur.
·         Berasal dari Yunan (Cina).
·         Memiliki kebudayaan yang kurang maju.
·         Belum bisa membuat alat-alat dari logam.
·         Keturunan Proto Melayu, Suku Batak, Toraja, Dayak.
Bangsa Deutro Melayu
·         Masuk ke Indonesia gelombang ke 2 pada tahun 500 SM.
·         Masuk ke Indonesia hanya melalui jalur barat.
·         Berasal dari Dongson (Vietnam).
·         Lebih maju dibanding Proto Melayu.
·         Sudah mampu membuat alat-alat dari logam.
·         Suku keturunan Deutro Melayu, Suku Jawa, Madura, Melayu, dll
               
Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC (J.P. Coen)


A. Penyebab Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC di Batavia
Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan. Cita-cita Sultan Agung antara lain: (1) mempersatukan seluruh tanah Jawa, dan (2) mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara. Terkait dengan cita-citanya ini maka Sultan Agung sangat menentang keberadaan kekuatan VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli itu juga dapat membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia. Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC di Batavia dilakukan pada tahun 1628 dan 1629. Perlawanan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu pertama, Sultan Agung menyadari bahwa kehadiran Kompeni Belanda di Batavia dapat membahayakan kesatuan Negara yang dalam hal ini terutama Pulau Jawa1. Pihak Belanda telah melakukan apa yang telah diperingatkan oleh Sultan Agung agar tidak mereka lakukan yakni mereka telah merebut suatu bagian Pulau Jawa yang ingin diperintahnya sendiri sebagai penguasa tunggal. Padahal, sejak awal Sultan Agung telah memperingatkan kepada pihak Belanda bahwa persahabatan yang sama-sama mereka inginkan tidak akan mungkin terlaksana apabila VOC berusaha merebut tanah Jawa. Hal itu disebabkan karena pola pemerintahan Sultan Agung adalah Ia tidak pernah mau berkompromi dengan Belanda atau penjajah lainnya. Prinsip Mataram yang diembannya adalah bagaimana pun Belanda tidak boleh unggul  di atas Mataram. Sementara itu, di bidang kerjasama perdagangan misalnya, sejauh masih tetap menguntungkan Mataram, Sultan Agung masih memberikan kelonggaran kepada Belanda. Oleh sebab itu, Jayakarta (Batavia) diserbu Sultan Agung pada masa pemerintahannya.
Kedua, Sultan Agung sempat mengajukan beberapa tawaran kepada VOC, tetapi ditolak. Pada tahun 1621, personel VOC yang ditawan dipulangkan ke Batavia beserta pengiriman beras. VOC mengirimkan perutusan-perutusannya kepada Sultan Agung pada tahun 1622, 1623, dan tahun 1624, tetapi permintaan Sultan Agung akan bantuan angkatan laut VOC dalam rangka melawan Surabaya, Banten, maupun Banjarmasin ditolak oleh pihak VOC. Karena VOC tidak bersedia memberikan bantuan angkatan laut kepadanya, maka tidak ada satu alasan pun bagi Sultan Agung untuk membiarkan kehadiran mereka di Pulau Jawa.
Ketiga, bagi Sultan Agung, Batavia merupakan kota yang dapat merugikan kerajaannya. Hubungan antara Mataram dan Malaka dipersukar oleh Batavia. Sultan Agung menganggap bahwa hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari Batavia yaitu dengan mengahancurkan kota tersebut. Sudah berkali-kali ia mengirim utusan kepada VOC untuk mengirim wakil  kepadanya, tetapi hal itu tidak dilakukan oleh pihak VOC. Atas dasar inilah raja Mataram mengadakan persiapan untuk menyerbu Batavia. 
Keempat, Imperialisme Belanda dengan VOC nya mempunyai dua rencana kejahatan. Pertama, dalam proses mempercepat perebutan kekuasaan ekonomi Islam. Kedua, berlomba-lomba untuk memperoleh hegemoni antar Imperialis Barat di Nusantara dan Kerajaan Katolik Portugis juga Spanyol serta Kerajaan Protestan Anglikan Inggris. Di bawah kondisi tantangan Imperialis Protestan Belanda ini, Sultan Agung melancarkan serangan ke Batavia pada tahun 1628-1629.

B. Bentuk Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC
1. Perlawanan Pertama, 1628.
Tanda-tanda pertama bahwa orang Mataram akan merencakan sesuatu yang luar biasa adalah penutupan hampir seluruh pantai Jawa atas perintah Tumenggung Baureksa dari Kendal. Penutupan ini telah dimulai pada awal tahun 1628. Berita tentang penyerangan Raja Mataram terhadap Batavia dengan 48.000 atau 100.000 pasukan masih tetap gencar. Pada tanggal 13 April 1628, Kia Rangga tiba di Batavia dengan 14 kapal yang bermuatan beras. Ia memohon bantuan kepada Belanda agar membantu Sultan Agung melawan Banten. Permohonan pertama dipertimbangkan oleh pemerintah pusat, tetapi permohonan selanjutnya ditolak karena semua pelabuhan jelas ditutup dengan ketat. Pada tanggal 22 Agustus 1628, Tumenggung Baureksa (Panglima tertinggi armada Jawa) tiba di pelabuhan Batavia dengan 50 kapal yang lengkap dengan perbekalan yang sangat banyak. Perbekalan tersebut terdiri dari 50 gorab dan kapal-kapal yang memuat 150 ekor ternak, 120 last beras, 10.600 ikat padi, 26.000 kelapa, 5.900 ikat batang gula, dan sebagianya dilengkapi dengan tidak kurang dari 900 awak kapal. Hal ini membuat VOC sangat prihatin, sehingga sebagian hewan diturunkan dan sebagian kapal-kapal besar ditahan di luar pelabuhan yang menimbulkan kemarahan pasukan Mataram. Pada tanggal 24 Agustus, tiba lagi kapal dengan tujuan Malaka. Pihak Belanda berusaha memisahkan kapal ini dari kapal-kapal lainnya agar tidak sempat memberikan senjata kepada teman-temannya. Akan tetapi, usaha ini gagal, kapal-kapal akhirnya dapat berkumpul. Pada pagi hari 20 buah perahu menyerang pasar dan benteng. Orang-orang Mataram yang dengan perahu itu naik ke darat dan mereka berhasil mencapai benteng. Penyerbuan ini berlangsung sampai pagi. Banyak korban yang jatuh. Tujuh perahu yang datang pada tanggal 24 Agustus mendarat di Marunda dan tidak mau mendekati Batavia setelah mengetahui penyerbuan ke benteng tersebut memakan banyak korban. Keesokan harinya, 26 Agustus 1628, datang sebuah pasukan besar di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa.
Dalam menghadapi kekuatan Mataram, Belanda mengorbankan daerah sekitar benteng. Kampung disekitarnya dibakar dan diratakan dengan tanah. Pada waktu pasukan Mataram hendak mendekati benteng, dengan mudahnya Belanda mengusir mereka karena pihak Mataram tidak mendapat tempat persembunyian. Akhirnya, dengan terpaksa pasukan Mataram menarik diri ke daerah-daerah yang agak jauh yang berpohon dan membuat benteng-benteng dari anyaman bambu. Meskipun demikian, mereka berhasil maju karena mereka menggali parit-parit dan membuat benteng-benteng seperti di atas. Adapun taktik VOC untuk menghadapi pasukan Mataram ini adalah dengan mengirim sejumlah tentara yang dilindungi oleh 150 penembak sehingga mereka berhasil mengusir pasukan Mataram dari parit-parit ini. Korban yang tercatat pada peristiwa ini diperkirakan antara tiga puluh sampai empat puluh orang. Pada tanggal 21 September pasukan Mataram mulai menyerang benteng Hollandia. Semalam penuh mereka berusaha untuk dapat menaikinya dengan tangga. Akan tetapi, 24 seradadu Belanda dapat mempertahankannya dengan gigih hingga semua peluru telah habis tertembak. Ketika diketahui bahwa yang menjadi sasaran hanya Hollandi saja, Belanda mulai melancarkan serangan besar dengan 300 serdadu dan 100 orang sipil. Bahkan dalam perkemahan pasukan Mataram ditimbulkan kekacauan. Seluruh pos terdepan orang Mataram dirusak dan dibakar. Kerugian mereka diperkirakan 1.200 sampai 1.300 orang yang gugur, dan dua sampai tiga ribu ditawan. Angka tinggi yang terakhir ini dapat menunjukkan bahwa pasukan Mataram tercerai-berai. Pihak Belanda mendengar kabar bahwa masih tersisa pasukan Mataram sekitar tiga sampai empat ribu orang, dan masih banyak yang berkeliaran di hutan untuk mencari makan. Oleh karena itu, pada 21 Oktober diadakan serangan umum yang dipimpin komandan Batavia, Jacqus Lefebre. Ia dapat mengerahkan kekuatan tentara sebanyak 2.866 orang. Sebuah armada yang terdiri dari dua sampai dengan tujuh sekoci dan beberapa kapal berawak 150 orang dikatakan akan menyerang perkemahan musuh dari sungai, sedangkan pasukan musuh yang lain akan diserbu oleh angkatan darat. Pada pertempuran ini Tumenggung Baureksa beserta putraya dan sekitar 200 pasukan mataram gugur. Akhirnya, pasukan Mataram yang kedua telah tiba untuk memperkuat pasukan sebelumnya. Pertempuran ini hampir mengalahkan Belanda, karena pasukan Belanda kebanyakan kehabisan peluru. Di pihak Belanda 60 orang gugur dan kehilangan senjata.
Panglima pasukan yang baru bernama Tumenggung Sura Agul-Agul dibantu oleh Tumenggung Mandurareja dan Tumenggung Upasanta. Mereka dikatakan tiba di ambang Batavia dengan harapan kota telah ditaklukkan sehingga mereka hanya tinggal menyita pakaian-pakaian dan beberapa uang. Angkatan kedua ini mengubah taktik dan hendak menjalankan taktik seperti yang digunakan terhadap Surabaya, yaitu dengan membendung Sungai Ciliwung dengan maksud agar Batavia kekurangan air. Namun, usaha ini gagal karena musim penghujan mulai  datang. Jatuhnya musim penghujan itu membuat Batavia sangat beruntung, tetapi bagi pasukan Mataram merupakan suatu kerugian, sebab segera timbul macam-macam penyakit. Selain itu pasukan Mataram banyak yang menderita kelaparan dan serba kekurangan. Padahal, telah diperkerjakan sebanyak 3.000 orang selama satu bulan sejauh satu mil dari kota untuk dapat membendung kota, tetapi kemajuan sangat lambat, rakyat merasa lemas karena kelaparan dan serba kekurangan. Satu-satunya serangan pada bagian kedua pengepungan ini adalah usaha baru untuk merebut benteng Hollandia. Hal ini dilakukan pada malam 27 November. Pertama-tama dikerahkan sebanyak 100 pasukan, kemudian dengan 300 pasukan, tetapi beberapa di antara mereka mati tertembak dan sisa pasukan yang lain melarikan diri. Sehingga serangan terhadap Hollandia mengalami kegagalan. Oleh sebab itu, pada tanggal 1 Desember Tumenggung Sura Agul-Agul memerintahkan agar mengikat Mandurareja dan Upa Santa beserta anak buahnya, atas perintah Sultan mereka dihukum mati karena Batavia gagal ditaklukkannya dan karena mereka dianggap tidak bertempur mati-matian. Beberapa di antara mereka dipancung, kebanyakan ditikam dengan tombak dan keris. Ketika pasukan meninggalkan Batavia, mayat-mayat dibiarkan di tanah dan menjadi tontonan eksekusi yang kejam. VOC menemukan 744 mayat prajurit Jawa yang tidak dikuburkan, beberapa di antaranya tanpa kepala. Demikianlah berakhir pengepungan Batavia yang pertama, yang akan diulang pada tahun berikutnya oleh Sultan Agung.

2. Serangan Kedua, 1629
Persiapan untuk serangan kedua dijalankan jauh sebelum serangan itu dimulai dan perhatian dipusatkan pada persoalan logistik kecuali masalah persenjataan dan pengangkutan, yang sangat vital fungsinya adalah beras. Di beberapa tempat sepanjang rute perjalanan barisan diadakan tempat persediaan beras, antara lain di Tegal dan Cirebon. 16 Sementara itu berita tentang persiapan Mataram untuk mengulang pengepungan sudah lama terdengar sampai di Batavia. Raja Cirebon, baik Raja Sepuh maupun Raja Anom dikatakan mengirim informasi secara rahasia ke Batavia.Serangan yang kedua dilakukan pada tahun 1629, akan tetapi serangan yang kedua ini merupakan malapetaka bagi Sultan Agung dan pasukannya. Sebelum pertempuran dimulai, utusan Mataram yang bernama Warga, menawarkan perdamaian dengan VOC, tetapi setelah diketahui maksud Mataram yang sebenarnya, dia dihukum mati. Angkatan perang Sultan Agung berangkat dalam dua gelombang, yang pertama terdiri atas artileri dan amunisi yang berangkat pada pertengahan Mei 1629, adapun gelombang kedua ialah pasukan infanteri yang berangkat pada tanggal 20 juni 1629. Pasukan itu dipimpin oleh Kyai Adipati Juminah, K.A. Purbaya, dan K.A. Puger. Mereka dibantu oleh Tumenggung Singaranu, Raden Aria Wiranatapada, Tumenggung Madiun dan K.A. Sumenep.
Pada tanggal 4 Juli pihak VOC mulai memusnahkan 200 kapal, 400 rumah, dan satu gunungan padi. Rasa takut timbul sedemikian hebat sehingga tidak ada satu pun kapal milik orang Mataram yang berani muncul. Beberapa minggu kemudian, gunungan padi kedua di Cirebon dimusnahkan. Dengan melihat kejadian-kejadian ini, sebenarnya hasil peperangan sudah dapat diketahui. Apapun usaha dan kemahiran yang dilancarkan pasukan Sultan Agung terhadap VOC, pihak Mataram tetap saja menerima kekalahan. Hal ini disebabkan karena dengan kekurangan makanan seluruh pengepungan hanya bertahan satu bulan. Pada tanggal 8 September pihak yang dikepung melihat bahwa orang Mataram dengan parit perlindungan yang sangat diperkuat telah mendekati benteng Hollandia. Hanya dengan satu sergapan saja, parit-parit pertahanan tersebut dapat dihancurkan. pada tanggal 12 September, benteng Bommel diserbu 200 orang, delapan hingga sembilan orang mulai memanjat dan langsung dipukul mundur. Pada tanggal 14 dan 15 September datang gerobak-gerobak berisi meriam yang ditarik dengan menggunakan 12 sampai dengan 18 ekor kerbau. Pada tanngal 17 September pihak VOC merencakan sebuah sergapan di bawah pimpinan Antonio van Diemen. Sebagian pertahanan pihak Mataram dibakar. Akan tetapi, hujan menolong pihak Mataram dalam usahanya untuk memadamkan kebakaran. Pada hari-hari berikutnya pihak Mataram mempersiapkan persenjataan mereka. Sehingga pada tanggal 21 September, tepat sebulan sesudah orang Mataram pertama muncul di Batavia, tembakan pertama dapat dilepaskan. Pada tanggal 20 September Gubernur Jenderal Jan Pietersz. Coen meninggal dunia karena mendadak sakit. Tepat pada tanggal 27 September pihak Belanda memutuskan untuk tidak lagi mengadakan serangan umum, karena pihak Mataram yang ditawan memberi keterangan tentang bahaya kelaparan yang semakin mengancam. Pada serangan kecil yang terjadi pada 1 Oktober, pihak Mataram kelihatan tidak bersemangat lagi. Keesokan harinya penarikan mundur dimulai. Pasukan yang mundur ini meninggalkan mayat-mayat dan korban, gerobak-gerobak kosong beserta barang-barang yang lain, dan semakin jauh dari kota semakin banyak jumlahnya. Penyerangan di tahun 1629 ini mengakibatkan pihak Mataram mengalami banyak penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kelaparan, tentarannya pun bercerai-berai dalam perjalanan pulang mereka. Sedangkan VOC hanya menderita sedikit kerugian. Ambisi Sultan Agung tidak seimbang dengan kemampuan militer dan logistiknya sehingga telah membawa dirinya ke dalam kehancuran di depan Batavia. Semenjak itu, tentara Mataram tidak pernah lagi menyerang Batavia. Menurut Graff, penyebab kegagalan pihak Mataram terletak pada kurangnya perawatan, kurangnya daya tembak dibandingkan dengan kemampuan orang Eropa, serta postur tubuh orang Jawa yang lebih kecil jika dibandingkan dengan orang Belanda. Juga benteng pertahanan Eropa, bagaimanapun primitif dan kurang efisiensinya, sangat menyulitkan mereka. Misalnya saja serbuan mereka yang gagal terhadap benteng kecil yang dipertahankan oleh kurang lebih 12 orang saja. Meskipun demikian, pasukan Mataram ternyata sangat berdisiplin, mereka berani bertempur, dan dapat menyesuaikan diri dengan cara-cara tempur yang asing baginya, misalnya pengepungan terhadap kota yang diperkuat secara Eropa. Hanya pada detik-detik terakhir, ketika keadaan serba kekurangan mulai terasa dan penyakit merajalela, semangat dan daya tahan mereka mulai berkurang.

C. Dampak Kekalahan Sultan Agung Bagi Kerajaan Mataram Islam
Kegagalan yang sampai dua kali dialami pasukan Mataram di Batavia tentu meninggalkan kesan yang mendalam terhadap Mataram khususnya bagi Sultan Agung. Setelah musibah di Batavia, Sultan Agung memang patut cemas. Pertama, rakyat Priangan melepaskan diri dari kekuasaan Raja karena menyesalkan petaka di Batavia yang meminta banyak korban. Di samping itu, mulai terjadi sejumlah pergolakan di sekitar pusat kerajaan yang mungkin lebih berbahaya. Musibah yang terjadi pada tahun 1628 dan tahun 1629 jelas mencemaskan lapisan masyarakat Mataram. Suatu rangkaian kemenangan yang tidak ada putusnya, sekarang tiba-tiba berhenti. Dikabarkan bahwa suluruh bangsawan Mataram diliputi rasa takut terhadap Batavia, dan mereka menasehati Sultan Agung agar tidak lagi memerintahkan untuk kembali ke Batavia, kecuali bila Sultan Agung ikut serta. Pada tahun 1630, Sultan tidak mampu berbuat sesuatu yang luar biasa. Sepertinya ekspedisi pada tahun-tahun sebelumnya dan terutama pada tahun 1629 sangat melelahkan Sultan Agung sehingga terkesan ia tidak berhasrat untuk berperang lagi, dan ia membutuhkan waktu untuk istirahat sejenak.
Kekalahan Sultan Agung di Batavia juga telah menghancurkan mitos bahwa dirinya tidak dapat dikalahkan. Kerajaannya yang rapuh harus dipersatukan kembali dengan kekuatan militer. Kekalahan tersebut juga mengakibatkanVOC di Jawa semakin kuat dan merajalela. Sehingga kerajaan Mataram dipaksa untuk mengakuinya. Dengan demikian, visi Sultan Agung untuk menyatukan seluruh pesisir Pulau Jawa gagal terpenuhi. Sementara VOC mengontrol wilayah pesisir Jawa. VOC juga meletakkan fondasi bagi penjajahan oleh pemerintahan Belanda selanjutnya, tidak hanya di Jawa, tetapi juga hampir di seluruh wilayah Nusantara. Pasca kegagalan Sultan Agung untuk merebut Batavia, pihak VOC mulai melancarkan serangan dan secara berkala memperluas wilayah dengan mengambil alih kekuasaan raja-raja pribumi.  Selain Sultan Agung, tidak ada lagi seorang pun raja Jawa yang menjadi ancaman serius bagi Belanda hingga masa Pangeran Mangkubumi, dan tidak akan ada lagi kekuatan Jawa yang mengepung Batavia.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kekalahan di Batavia menyebabkan daerah-daerah bawahan Mataram melakukan pemberontakan untuk merdeka. Diawali dengan pemberotakan yang dipimpin oleh para guru agama dari daerah Tembayat, pada tahun 1630 Sultan Agung membantai habis-habisan kaum pemberontak tersebut. Pada tahun 1631, Sultan Agung menumpas pusat-pusat perlawanan di Sumedang dan Ukur di Jawa Barat. Kemudian di tahun 1636 terjadi pemberontakan di Giri. Sultan Agung mengutus Pangeran Pekik untuk menaklukkan Giri dan pada tahun 1640 berhasil menundukkan Blambangan. Akhirnya, pada tahun 1646 kira-kira antara awal bulan Februari dan awal bulan April, Sultan Agung wafat. Hal ini diduga karena Sultan Agung terserang suatu penyakit. Pintu-pintu gerbang yang menuju ke istana ditutup untuk mencegah terjadinya kudeta, dan putranya dinyatakan sebagai penggangtinya dengan gelar Susuhunan Amangkurat I. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa sebelum Sultan wafat, ia berpesan kepada Pangeran Purbaya:
Uwa Purbaya, rasa-rasanya saat ini saya sudah waktunya untuk menghadap Allah. Saya hanya berpesan, bahwa yang pantas menjadi Sultan di Mataram ini adalah putra saya yang tua, yaitu pangeran Adipati Arya Mataram, sedangkan putra saya yang muda biarlah turut serta mulia bersama. Uwa saya minta untuk dapat membimbing cucu, putra saya serta seluruh kerabat. Selamat tinggal. Pada masa Amangkurat I (Pengganti Sultan Agung), pengejaran terhadap Giri terus dilakukan dan sebanyak 6000 santri dibantai di alun-alun Plered. ketika Giri telah dikuasai, maka tidak ada satu pun daerah pesisir yang merdeka. Inilah yang kemudian disebut sebagai pemisahan antara agama dan Negara. Jika pada masa-masa sebelumnya, ulama pesisir banyak yang menjadi penasehat raja, maka semenjak itu ulama-ulama pesisir tidak lagi menjadi penasehat raja.Amangkurat I memang berbeda dengan ayahnya yakni Sultan Agung yang sangat menentang VOC. Amangkurat I bersikap anti ulama dan melakukan pendekatan serta kerja sama dengan VOC. Sepeninggal Sultan Agung, perpecahan, persaingan, perebutan kekuasaan dan kepentingan pribadi di antara penguasa-penguasa daerah dan di antara kaum bangsawan kembali berkecamuk. Seperti itulah kondisi Mataram pasca pemerintahan Sultan Agung.

Sumber :
a. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka
b.    Ricklefs. 2011. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press 
c.   Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung


Copyright © 2013 Barokah